Pages

Banner 468 x 60px

 

Rabu, 30 Agustus 2017

Islam, Pemuda, Dan Perubahan Sosial

0 komentar
Pemuda ialah manusia yang diberikan anugerah berupa ambisi yang mampu membawa perubahan disetiap sendi-sendi kehidupan. Bahkan mereka mampu menjadi pembaharu di masyakat yang tengah kebingungan. Tokoh-tokoh tersebut menjadi pahlawan di masyarakat yang berpengaruh dan setiap ibu berharap melahirkan pahlawan tersebut. Islam yang dibawa Rasulullah (Muhammad SAW) dengan kesempurnaannya membawa cahaya dalam kegelapan masa jahiliyah  membebaskan manusia dari zaman kebodohan ke masa gemilang peradaban. Pemuda-pemuda  muslim membawa perubahan sosial di masyarakat membangun kekuatan ekonomi, politik dan perang . Semangat yang dimiliki mereka mempengaruhi begitu banyak orang disekitarnya. Beberapa diantaranya adalah Ali bin Abi Thalib,Khalid bin Walid, Zaid bin Ali, Abu Hanifah, Abdurrahman Al- Al-Awza’i, Imam Malik. Khalid bin Walid berkata  "Andaikata kalian bersembunyi di langit, niscaya kuda-kuda kami akan memanjat langit untuk membunuh kalian. Andaikata kalian berada di perut bumi, niscaya kami akan menyelami bumi untuk membunuh kalian."  Kata-kata Khalid tersebut membawa gerakan semangat dalam diri setiap muslim saat berperang bersamanya. Kedatangannya membawa resah pada setiap musuh Allah dan membawa rasa gembira pada kaum muslimin karena setiap kemenangan-kemenangan yang diraih Khalid dan kaum muslimin yang ikut berperang. Khalid  adalah seorang panglima perang kaum musyrikin Quraish yang kemudian beliau besyahadat dan menjadi sahabat yang diberikan gelar pedang Allah yang selalu terhunus.
Hanya apabila kebaikan dan kekuatan menjelma jadi matahari yang menerangi kehidupan, atau purnama yang merubah malam jadi indah, atau mata air yang menghilangkan dahaga.  Nilai sosial setiap kita terletak pada apa yang kita berikan kepada masyarakat, atau pada kadar manfaat yang dirasakan masyarakat dari keseluruhan performance kepribadian kita. Maka, Rasulullah saw berkata, "Sebaik-baik manusia adalah manusia yang paling bermanfaat bagi manusia yang lain."
Demikianlah, kita menobatkan seseorang menjadi pahlawan karena ada begitu banyak hal yang telah ia berikan kepada masyarakat. Maka, takdir seorang pahlawan adalah bahwa ia tidak pernah hidup dan berpikir dalam lingkup dirinya sendiri. la telah melampai batas-batas kebutuhan psikologis dan biologisnya. Batas-batas kebutuhan itu bahkan telah hilang dan lebur dalam batas kebutuhan kolektif masyarakatnya di mana segenap pikiran dan jiwanya tercurahkan.
Dalam makna inilah pengorbanan menemukan dirinya sebagai kata kunci kepahlawanan seseorang. Di sini ia bertemu dengan pertanggungjawaban, keberanian, dan kesabaran. Tiga hal terakhir ini adalah wadah-wadah kepribadian yang hanya akan menemukan makna dan fungsi kepahlawanannya apabila ada pengorbanan yang mengisi dan menggerakkannya. Pengorbananlah yang memberi arti dan fungsi kepahlawanan bagi sifat-sifat pertanggungjawaban, keberanian, dan kesabaran.
Maka, keempat makna dan sifat ini—rasa tanggung jawab keagamaan, semangat pengorbanan, keberanian jiwa, dan kesabaran. adalah rangkaian dasar yang seluruhnya terkandung dalam ayat-ayat jihad. Dorongannya adalah tanggung jawab keagamaan (semacam semangat penyebaran dan pembelaan). Hakikat dan tabiatnya adalah pengorbanan. Perisainya keberanian jiwa. Namun, nafas panjangnya adalah kesabaran.
Maka, benarlah apa yang dikatakan Sayyid Quthb, "Orang yang hidup bagi dirinya sendiri akan hidup sebagai orang kerdil dan mati sebagai orang kerdil. Akan tetapi, orang yang hidup bagi orang lain akan hidup sebagai orang besar dan mati sebagai orang besar."
Kaidah itu tidak saja berlaku bagi kehidupan individu, tetapi juga merupakan kaidah universal yang berlaku bagi komunitas manusia Syakib Arselan, pemikir Muslim asal Syiria, yang menulis buku Mengapa Kaum Muslimin Mundur dari Orang Barat Maju menjelaskan jawabannya dalam kalimat yang sededma, "Karena," kata Syakib Arselan, "orang-orang Barat lebih banyak berkorban dari pada kaum Muslimin. Mereka memberi lebih banyak demi agama mereka ketimbang apa yang diberikan kaum Muslimin bagi agamanya."
Sekarang, mengertilah kita. Dan ketika ada pertanyaan, "Apakah yang dibutuhkan untuk menegakkan agama ini dalam realitas kehidupan?" Maka jawabnya adalah hadirnya para pahlawan sejati yang tidak lagi hidup bagi dirinya sendiri, tetapi hidup bagi orang lain dan agamanya, serta mau mengorbankan semua yang ia miliki bagi agamanya. 
.”Generasi muda pada setiap bangsa merupakan tiang kebangkitam, pada setiap kebangkitan mereka adalah rahasianya, dan pada setiap gagasan , mereka adalah pembawa benderanya” . Hasan Al-Banna



0 komentar:

Posting Komentar

Berita Muslim

Hendak Mengungsi, Muslim Rohingya Ditembaki Tentara Myanmar

A ksi bengis dan sadis kembali dilakukan prajurit Myanmar. Kali ini puluhan warga Muslim Rohongya yang akan mengungsi menjadi sasaran tem...

 
KAMMI UNIDA © 2017 Supported by Lembaga Dakwah Kampus Mukhlis Kampus Bertauhid